TGIPF Keluarkan Kesimpulan, Gas Air Mata Jadi Penyebab Banyaknya Korban Tewas di Kanjuruhan

15 Oktober 2022, 07:00 WIB
Ketua Tim Gabungan Independen Pencari Fakta atau TGIPF meminta PSSI bertanggung jawab penuh atas tragedi Kanjuruhan yang menewaskan ratusan suporter Arema. /@mohmahfudmd/Instagram

EDITORNEWS.ID - Tim Gabungan Independen Pencari Fakta atau TGIPF Tragedi Kanjuruhan telah melaporkan hasil investigasi kepada Presiden Joko Widodo. Tim yang dipimpin Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Mahfud Md ini menyimpulkan gas air mata jadi penyebab utama kematian massal di insiden tersebut.

"Kemudian yang mati dan cacat, serta sekarang kritis dipastikan itu terjadi karena desak-desakan setelah ada gas air mata yang disemprotkan, itu penyebabnya," kata Mahfud dalam konferensi pers di Istana.

Gas air mata ini juga sudah kedaluwarsa dan diakui polisi. Mahfud menyebut kadar bahaya dan racun pada gas itu sekarang sedang diperiksa oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN.

"Tapi apa pun hasil pemeriksaan BRIN tak bisa mengurangi kesimpulan bahwa kematian massal itu terutama disebabkan oleh gas air mata," ujar Mahfud.

Baca Juga: Rizky Billar Bebas Ungkap Rasa Penyesalan

Tragedi Kanjuruhan menewaskan 132 orang seusai pertandingan Arema FC vs Persebaya Surabaya pada 1 Oktober. Jokowi pun membentuk TGIPF untuk menelisik secara keseluruhan kejadian ini.

Fakta yang ditemukan TGIPF cukup mengejutkan. Pasalnya, proses jatuhnya korban jauh lebih mengerikan dari yang beredar di televisi dan media sosial.

Pernyataan ini disampaikan Mahfud berdasarkan bukti yang terkumpul. Terutama dari rekonstruksi 32 CCTV yang dimiliki aparat.

"Jadi itu lebih mengerikan dari sekedar semprot (gas air mata), mati, semprot, mati," kata dia.

Baca Juga: Mata Aremanita Merah Pekat karena Gas Air Mata, Pindad Sebut Efeknya Semakin Lama Kian Parah

Dalam rekaman CCTV, tim menyaksikan ada korban yang saling bergandengan untuk keluar. Satu orang keluar dan satu lain tertinggal di dalam stadion.

Lalu yang sudah keluar masuk lagi untuk menolong rekannya. Apesnya niat baik tersebut malah berujung kematian.

"Terinjak-injak, lalu mati," ujar Mahfud.

Bahkan beberapa suporter terlihat saling bahu-membahu. Ada juga korban yang saling memberi bantuan pernapasan.

"Karena sudah tidak bisa bernapas, kena semprot (gas air mata), juga mati. Lebih mengerikan dari yang beredar, karena ini ada CCTV," ujar mantan Ketua MK ini.***

Editor: Aditya Ramadhan

Tags

Terkini

Terpopuler